Loading...

Kamis, 02 Desember 2010

KELOMPOK TOEJOEH OF GEOGRAFI


Dari kiri:

Nama Kelompok 7

M.Syis Nur Sehi
Anto Marullah
Subhan Awaludin
M.Saepullah
Yopi

PENGERTIAN SIG

 1.Pengertian SIG ( Sistem Informasi Geografi )
Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information System disingkat GIS) adalah sistem informasisistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini. khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spasial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah
 
Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi.

TAHAPAN KERJA SIG

Tahapan kerja SIG meliputi tiga hal utama, yaitu masukan (input), proses, dan keluaran (output). Perhatikan Bagan 3.4.


1. Data Masukan (Input Data)
Tahapan kerja SIG yang pertama adalah data masukan, yaitu suatu tahapan pada SIG yang dapat digunakan untuk memasukkan dan mengubah data asli ke dalam bentuk yang dapat diterima oleh komputer. Data-data yang masuk tersebut membentuk database (data dasar) di dalam komputer yang dapat disimpan dan dipanggil kembali untuk dipergunakan atau untuk pengolahan selanjutnya. Tahapan kerja masukan data meliputi pengumpulan data dari berbagai sumber data dan proses pemasukan data.
a. Sumber Data
Data dasar yang dimasukkan dalam SIG diperoleh dari empat sumber, yaitu data lapangan (teristris), data peta, data pengindraan jauh, dan data statistik.
1) Data pengindraan jauh (remote sensing) adalah data dalam bentuk citra dan foto udara atau nonfoto.
Citra adalah gambar permukaan bumi yang diambil melalui satelit. Foto udara adalah gambar permukaan bumi yang diambil melalui pesawat udara. Informasi yang terekam pada citra penginderaan jauh yang berupa foto udara atau diinterpretasi (ditafsirkan) terlebihi dahulu sebelum diubah ke dalam bentuk digital. Adapun citra yang diperoleh dari satelit yang sudah dalam bentuk digital langsung digunakan setelah diadakan koreksi seperlunya.
2) Data lapangan (teristris), yaitu data yang diperoleh secara langsung melalui hasil pengamatan di lapangan karena data ini tidak terekam dengan alat penginderaan jauh. Misalnya, batas administrasi, kepadatan penduduk, curah hujan, pH tanah, kemiringan lereng, suhu udara, kecepatan angin, dan gejala gunungapi.
3) Data peta (map), yaitu data yang telah terekam pada kertas atau film. Misalnya, peta geologi atau peta jenis tanah yang akan digunakan sebagai masukan dalam SIG, kemudian dikonversikan (diubah) ke dalam bentuk digital.
4) Data statistik (statistic), yaitu data hasil catatan statistik dalam bentuk tabel, laporan, survei lapangan, dan sensus penduduk. Data statistik diperoleh dari lembaga swasta atau instansi resmi peme rintah, seperti Biro Pusat Statistik (BPS). Data statistik merupakan data sekunder, yaitu data yang telah mengalami pengolahan lebih lanjut.
b. Proses Pemasukan Data
Proses pemasukan data ke dalam SIG diawali dengan mengumpulkan dan menyiapkan data spasial maupun data atribut dari berbagai sumber data, baik yang bersumber dari data lapangan, peta, penginderaan jauh, maupun data statistik.
Bentuk data yang akan dimasukkan dapat berupa tabel, peta, catatan statistik, laporan, citra satelit, foto udara, dan hasil survei atau pengukuran lapa ngan. Data tersebut diubah terlebih dahulu menjadi format data digital sehingga dapat diterima sebagai masukan data yang akan disimpan ke dalam SIG. Data yang masuk ke dalam SIG dinamakan database (data dasar atau basis data).

Dari digitasi peta dihasilkan layer peta tematik. Layer peta tematik adalah peta yang digambar pada sesuatu yang bersifat tembus pandang, seperti plastik transparan.
Berbagai fenomena di permukaan bumi dapat dipetakan ke dalam beberapa layer peta tematik, dengan setiap layernya merupakan representasi kumpulan benda (feature) yang memiliki kesamaan. Misalnya, layer jalan, kemiringan lereng, daerah aliran sungai, tata guna lahan, dan jenis tanah. Layer-layer ini kemudian disatukan dan disesuaikan urutan maupun skalanya. Kemampuan ini memungkinkan seseorang untuk mencari di mana letak suatu daerah, objek, atau hal lainnya di permukaan bumi. Fungsi ini dapat digunakan, seperti untuk mencari lokasi rumah, mencari rute jalan, dan mencari tempat-tempat penting yang ada di peta. Pengguna SIG dapat pula melihat pola-pola yang mungkin akan muncul dengan melihat penyebaran letak feature, seperti sekolah, sungai, jembatan, dan daerah pertambangan.

Teknik pemasukan data ke dalam SIG dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1) Digitasi data-data spasial, seperti peta dengan menggunakan digitizer.
2) Scaning data-data spasial dan atribut dengan menggunakan scanner.
3) Modifikasi data terutama data atribut.
4) Mentransfer data-data digital, seperti citra satelit secara langsung.
2. Manipulasi dan Analisis Data
Tahapan manipulasi dan analisis data adalah tahapan dalam SIG yang berfungsi menyimpan, menimbun, menarik kembali, memanipulasi, dan menganalisis data yang telah tersimpan dalam komputer. Beberapa macam analisis data, antara lain sebagai berikut.
a) Analisis lebar, yaitu analisis yang dapat menghasilkan gambaran daerah tepian sungai dengan lebar tertentu. Kegunaannya antara lain untuk perencanaan pembangunan jembatan dan bendungan, seperti bendungan Jatiluhur, Saguling, dan Cirata yang mem bendung Citarum.
b) Analisis penjumlahan aritmatika, yaitu analisis yang dapat menghasilkan peta dengan klasifikasi baru. Kegunaannya antara lain untuk perencanaan wilayah, seperti wilayah permukiman, industri, konservasi, dan pertanian.
c) Analisis garis dan bidang, yaitu analisis yang digunakan untuk menentukan wilayah dalam radius tertentu. Kegunaannya antara lain untuk menentukan daerah rawan bencana, seperti daerah rawan banjir, daerah rawan gempa, dan daerah rawan gunungapi.
3. Keluaran Data

Tahapan keluaran data, yaitu tahapan dalam SIG yang berfungsi menyajikan atau menampilkan hasil akhir dari proses SIG dalam bentuk peta, grafik, tabel, laporan, dan bentuk informasi digital lainnya yang diperlu kan untuk perencanaan, analisis, dan penentuan kebijakan terhadap suatu objek geografis. Misalnya, untuk mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan dan pengelolaan penggunaan lahan (land use), sumber daya alam, lingkungan, transportasi, fasilitas kota, dan pelayanan umum lainnya. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dengan sistem informasi lainnya yang membuatnya menjadi berguna untuk berbagai kalangan dalam menjelaskan kejadian, merencanakan strategi, dan memprediksi apa yang akan terjadi.

MANFAAT SIG

Geographic Informational System (GIS) atau Sistem Informasi Geografis merupakan aplikasi yang memiliki banyak kegunaan. Tanpa disadari, banyak aktivitas pemerintahan yang akan sangat terbantu apabila aplikasi GIS diimplementasikan dengan baik.

Menurut Kabid Basis Data Rupa Bumi dan Tata Ruang Bakorsutanal (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Spasial Nasional) Doddy Sukmayadi, masih banyak pemda-pemda yang mengaku sudah memiliki aplikasi GIS, namun kenyataannya implementasinya belum optimal. Padahal, jika dioptimalkan, setidaknya ada enam manfaat penting yang akan didapatkan oleh pemda jika aplikasi GIS tersebut diterapkan.



Manfaat pertama, adalah Inventarisasi Sumber Daya Alam. Melalui penerapan GIS, dapat diidentifikasi tentang potensi-potensi alam yang tersebar di suatu wilayah. Identifikasi ini akan memudahkan dalam pengelolaan sumber alam untuk kepentingan orang banyak.

Manfaat kedua, Disaster Management. Artinya, aplikasi GIS dapat digunakan untuk melakukan pengelolaan rehabilitasi pasca bencana. Misalnya, saat bencana tsunami menerjang Aceh dan Nias, Badan Rehabilitasi - Rekonstruksi Aceh - Nias (BRR Aceh-Nias) menggunakan GIS untuk memetakan kondisi terkini dan menentukan prioritas pembangunan di lokasi yang paling parah kerusakannya.

Manfaat berikutnya adalah untuk Penataan Ruang & Pembangunan sarana-prasarana. Manfaat teknologi GIS yang ketiga ini dapat berbentuk banyak hal. Mulai dari untuk analisis dampak lingkungan, daerah serapan air, kondisi tata ruang kota, dan masih banyak lagi. Penataan ruang menggunakan GIS akan menghindarkan terjadinya banjir, kemacetan, infrastruktur dan transportasi, hingga pembangunan perumahan dan perkantoran.

Keempat, Investasi Bisnis dan Ekonomi juga merupakan manfaat yang bisa didapatkan dari aplikasi GIS. Dengan adanya peta informasi daerah, dapat ditentukan arah pembangunan. Dan para investor pun bisa menentukan strategi investasinya berdasarkan kondisi geografis yang ada, kondisi penduduk dan persebarannya, hingga peta infrastruktur dan aksesibilitas.

Selain itu, manfaat GIS juga bisa digunakan untuk sektor Pertahanan & Komunikasi. Peta data spasial dapat berguna bagi pemerintah untuk mengidentifikasi batas-batas perairan dan daratan. Dari segi komunikasi, GIS bisa berguna untuk mengidentifikasi dan menentukan persebaran coverage menara transmitter atau BTS.

Terakhir, GIS bisa digunakan untuk Games, Entertainment dan Edutainment. Di negara-negara maju, aplikasi ini dimanfaatkan untuk membuat permainan interaktif seperti SIM City. Juga untuk fungsi hiburan layaknya yang dilakukan di film-film Hollywood. Pemerintah sendiri bisa ambil bagian dalam mengembangkan aplikasi GIS untuk fungsi pendidikan, seperti Globe, Atlas, dan peta interaktif lainnya.


 

DESA

1. Pengertian Desa 


            dalam pengertian umum adalah permukiman manusia di luar kota yang penduduknya berjiwa agraris. Dalam keseharian disebut kampung, sehingga ada istilah pulang ke kampung atau kampung halaman. Desa adalah bentuk kesatuan administratif yang disebut kelurahan. Lurahnya kepala desa. Dalam lingkup kota yang dipenuhi pertokoan, pasar dan deretan kios, juga ada desa, seperti desa Kalicacing di kota Salatiga. Desa di luar kota dengan lingkungan fisisbiotisnya, adalah gabungan dukuh. Dukuh mewujudkan unit geografis yang tersebar seperti pulau di tengah persawahan atau hutan.Dukuh di Jawa Barat disebut kampung. Gampong di Aceh, huta di Tapanuli, nagari di Sumatera Barat, marga di Sumatera Selatan, wanus di Sulawesi Utara, dan dusun dati di Maluku. Desa menurut definisi Bintarto, adalah perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur2 geografis, sosial, ekonomi, politik dan kultural yang ada di sana dalam hubungannya dan pengaruh timbal balik dengan daerah2 lain.

Desa, dalam definisi lainnya, adalah suatu tempat/ daerah di mana penduduk berkumpul dan hidup bersama, menggunakan lingkungan setempat, untuk mempertahankan, melangsungkan dan mengembangkan kehidupan mereka. Desa adalah pola permukiman yang bersifat dinamis, di mana para penghuninya senantiasa melakukan adaptasi spasial dan ekologis sederap kegiatannya berpangupajiwa agraris. Desa dalam arti administratif, menurut Sutardjo Kartohadikusumo, adalah suatu kesatuan hukum di mana sekelompok masyarakat bertempat tinggal dan mengadakan pemerintahan sendiri.
Asal mula terbentuknya desa
Desa di Jawa, mulanya dihuni orang seketurunan. Mereka memiliki nenek moyang sama, yaitu para cikal bakal pendiri permukiman tsb. Jika desa sudah penuh, masalah2 ekonomi bermunculan. Beberapa keluarga keluarga keluar, mendirikan permukiman baru dengan cara membuka hutan. Tindakan ini disebut tetruka. Di Tapanuli, pembukaan desa baru, menurut Marbun, sebagian karena kelompok baru ingin mencapai hak dan kewajiban sebagai raja adat, atau tanah desa tak memadai lagi untuk menghidupi penghuninya. Desa sebagai kesatuan masyarakat memiliki 3 hal ;

  • Daerah/ rangkah/ wilayah, yaitu tanah2 pekarangan dan pertanian beserta penggunaannya, termasuk aspek lokasi, luas, batas, yang merupakan lingkungan geografis setempat.
  • Penduduk/ darah/ keturunan, meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan, penyebaran dan matapencarian.
  • Adat/ warah/ ajaran, yaitu ajaran tentang tata hidup, tata pergaulan, dan ikatan2 sebagai warga desa. Tata kehidupan ini terkait usaha penduduk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraannya.
Desa memiliki seting geografis dan sumber daya manusia yang berbeda-beda. Ada desa yang dikarunia alam yang kaya, namun semangat membangun, ketrampilan dan pengetahuan masyarakat serba kurang, sehingga tidak maju. Ada pula desa yang sumber alamnya terbatas, tetapi ekonominya maju, berkat kemampuan penduduknya mengatasi berbagai hambatan alam. Sehubungan dengan ini, ada 4 unsur geografis yang turut menentukan persebaran desa, yaitu : lokasi, iklim, tanah dan air.
  • Lokasi, menyangkut letak fisiografis, misalnya ; jauh dekatnya dengan jalan raya, sungai, rawa, pegunungan, pantai, kota, dsb, yang mempengaruhi ekonomi desa, kemajuan budaya, pendidikan. Contohnya, persebaran desa2 di wilayah kecamatan Batu, Malang. Desa2 ini menempati wilayah vulkanis yang tersebar di sekitar puncak2 gunung. Batas alam hampir berhimpit dengan batas administrasi. Kondisi fisiografis ( topografi, iklim, vegetasi ) cocok untuk agrowisata. Sungai Brantas di hulu memiliki banyak cabang sehingga baik untuk pertanian sayur, bunga dan budi daya pekarangan.
  • Iklim desa ( tipe iklim ), tergantung letak topografi desa dari atas permukaan air laut ( dpl ). Kaliurang ) 1000 m dpl ) dan Kopeng ( 1350 m dpl ) menjadi kota peristirahatan, lengkap dengan fasilitas rekreasi, perhotelan, perwarungan, perdagangan sayur dan bunga-bungaan. Di ketinggian tsb, tak ada sawah atau pun pohon kelapa yang tumbuh.
  • Tanah, misalnya tanah berkapur, berpasir, berlempung, bertanah liat, dsb, mempengaruhi keberhasilan pertanian. Tebu, tembakau, karet, coklat, teh, kopi, dsb, dibudidayakan menjadi perkebunan dengan modal teknologi dan perencanaan yang tepat
  •  
Ciri wilayah desa, bentuk & polanya

Menurut dirjen Bangdes, ciri2 wilayah desa antara lain ;
  • Perbandingan lahan dengan manusia cukup besar ( lahan desa lebih luas dari jumlah penduduknya, kepadatan rendah ).
  • Lapangan kerja yang dominan adalah agraris ( pertanian )
  • Hubungan antar warga amat akrab
  • Tradisi lama masih berlaku.
Ada beragam bentuk desa yang secara sederhana dikemukakan sbb ;
  • Bentuk desa menyusur sepanjang pantai ( desa pantai ).
  • Di daerah pantai yang landai dapat tumbuh permukiman yang bermatapencarian di bidang perikanan, perkebunan kelapa dan perdagangan. Perluasan desa pantai itu dengan cara menyambung sepanjang pesisir, sampai bertemu dengan desa pantai lainnya. Pusat2 kegiatan industri kecil ( perikanan, pertanian ) tetap dipertahankan di dekat tempat tinggal semula.
  • Bentuk desa yang terpusat ( desa pegunungan ).
  • Terdapat di daerah pegunungan. Pemusatan tsb didorong kegotongroyongan penduduknya. Pertambahan penduduk memekarkan desa pegunungan itu ke segala arah, tanpa rencana. Pusat2 kegiatan penduduk bergeser mengikuti pemekaran desa.
  • Bentuk desa linier di dataran rendah.
  • Permukiman penduduk di sini umumnya memanjang sejajar dengan jalan raya yang menembus desa tsb. Jika desa mekar secara alami, tanah pertanian di luar desa sepanjang jalan raya menjadi permukiman baru. Ada kalanya pemekaran ke arah dalam ( di belakang perrmukiman lama ). Lalu dibuat jalan raya mengelilingi desa ( ring road ) agar permukiman baru tak terpencil.
  • Bentuk desa mengelilingi fasilitas tertentu.
  • Fasilitas yang dimaksud, misalnya, mata air, waduk, lapangan terbang, dll. Arah pemekaran ke segala arah, sedangkan fasilitas industri kecil tersebar di mana pun sesuai kebutuhan
Bentuk2 desa tsa bertalian erat dengan usaha pengembangan dan penggalian sumber dayanya secara optimal. Dengan cara bijaksana, perkembangan permukiman harus direncanakan secara khusus, sehingga terjamin wajah permukiman yang baik dan menguntungkan. Di samping bentuk desa, Bintarto menyatakan ada 6 pola desa ; memanjang jalan, memanjang sungai, radial, tersebar, memanjang pantai, memanjang pantai dan sejajar jalan kereta api. Daerah Bantul, Yogyakarta merupakan line village ( pola desa memanjang jalan ). Permukiman di sekitar Gunung Slamet dan sungai di lerengnya membentuk desa berpola radial. Pola desa di daerah karst Gunung Kidul, Yogyakarta adalah tersebar. Permukiman di daerah Rengasdengklok, Jawa Barat dan Tegal membentuk desa berpola memanjang ( desa nelayan ) dan sejajar rel kereta api.
Pola2 desa, dari bujur sangkar sampai bulat telur.
Di Pakistan, geograf Misra merincinya lebih lengkap lagi menjadi 14 pola desa, yaitu :

                 
  • Segi empat memanjang ( rectangular ) ; tipe paling umum karena bentuk lahan pertaniannya. Kekompakan desa membutuhkan letak rumah yang saling berdekatan, karena tak ada tembok keliling yang mengamankannya. Pola segi 4 cocok bagi permukiman berkelompok.
  • Bujur sangkar ( square & 4 square ) ; tipe ini muncul di persilangan jalan, juga di permukiman bentuk segi 4 panjang yang terbagi 4 kelompok.
  • Desa memanjang ( elongated ) ; kondisi alam dan budaya setempat telah membatasi pemekaran desa ke arah2 tertentu sehingga terpaksa memanjangkan diri.
  • Desa melingkar ( circular ) ; bentuk ini diwarisi ketika tanah masih kosong. Desa dibangun di atas urugan tanah, sehingga dari luar nampak seperti benteng dengan lubang untuk keluar masuk.
  • Tipe beruji ( radial plan ) ; jika pusat desa berpengaruh besar atas perumahan penduduk, maka tercapai bentuk beruji. Pengaruh tsb berasal dari istana bangsawan, rumah ibadah atau pasar.
  • Desa poligonal ; karena desa tak pernah dibangun menurut rencana tertentu, maka nampak bentuk2 luar yang beragam. Bentuk ini antara melingkar dan segi empat panjang.
  • Pola tapal kuda ( horse shoe ) ; dihasilkan oleh sebuah gundukan, bukit atau lembah, sehingga pola desa menjadi setengah melingkar.
  • Tak teratur ( irregular ) : desa yang masing2 rumahnya tak karuan alang ujurnya.
  • Inti rangkap ( double nucleus ) ; desa kembar hasil pertemuan 2 permukiman yang saling mendekat, misalnya akibat lokasi stasiun kereta api di antara keduanya.
  • Pola kipas ; tumbuh dari pusat yang letaknya di salah satu ujung permukiman, dari situ jalan raya menuju ke segala arah.
  • Desa pinggir jalan raya ( street ) ; desa ini memanjang sepanjang jalan raya, pasar berada di tengah, jalan kereta api menyusuri jalan raya tsb.
  • Desa bulat telur ( oval ) ; sengaja dibuat menurut rencana demikian.
Warga Salamungkal swasembada, dari air sampai bahan pangan.
Terletak di ketinggian 800 meter dpl, berpenduduk lebih 1.264 jiwa, terbagi atas 150 kepala keluarga. Dukuh tsb laksana pulau terapung di tengah lautan persawahan nan hijau. Di dalamnya terdapat rumah2 penduduk tersebar di pekarangan masing2. Setiap pekarangan dihiasi beraneka jenis pohon buah, kolam ikan dan kandang kambing. Di sisi selatan dan barat dukuh, nampak jalan desa menyusurinya. Air sawah dialirkan dari lereng2 bukit di luar desa. Untuk membersihkan bahan pangan dan mencuci pakaian, dipakai air yang mengalir dari kolam2 ikan, yang asalnya dari sawah. Kebiasaan yang menyebabkan banyak anak berpenyakit cacingan. Dalam pekarangan, penduduk menanam pisang, ketela, sayuran, kelapa, bambu, dll. Di bawahnya ditanami aneka tumbuhan untuk bumbu masakan ( dapur hidup ) dan obat sehari-hari ( apotek hidup ).
Transmigran Sitiung, dapat tanah 2,25 hektar untuk mulai hidup baru.
Sekelompok rumah yang membentuk dukuh, atau desa. Umumnya berasal dari satu keturunan. Memegang adat sebagai norma yang mengatur perilaku anggotanya, dan berpencarian sebagai petani ( agraris ).

Ketika waduk Gajah Mungkur, Surakarta mulai dibangun, penduduk diungsikan secara bedol desa ke Sitiung, Sumatera Barat. Proyek transmigrasi di pinggir Trans Sumatera Highway ini berada di areal persawahan baru seluas 27.000 hektar, menggantikan 40.000 hektar dukuh2, tegalan dan persawahan para transmigran yang digenangi air waduk. Mereka terdiri 67.517 kepala keluarga ( kk ). Tiap2 angkatan yang terdiri sekitar 500 kk, secara bertahap berhasil dimukimkan kembali. Tiap kk disediakan 1,25 ha sawah, 0,75 tegalan dan 0,25 ha pekarangan di sekitar rumah tinggal. Letaknya, tidak di hutan liar, namun diapit permukiman penduduk asli yang telah lama ada.
Letak proyek transmigrasi di dekat pertemuan 2 batang sungai sehingga irigasinya lancar. Persebaran pedukuhan di tengah lautan persawahan. Berada di antara kota Sitiung dan Kotabaru menguntungkan perkembangan lanjut kawasan transmigrasi tsb. Di buatkan pula, jalan2 terobosan baru untuk keperluan transportasi dan komunikasi. ( drs.N.Daldjoeni ).
Sekolah di daerah terpencil : jarang angkot, tanpa listrik & langka guru


Didirikannya sekolah di daerah terpencil cenderung belum dibarengi dengan akses transportasi yang memudahkan siswa menuju ke sekolah. Akibatnya, penyerapan pelajaran kurang optimal dan libur sering diberlakukan saat cuaca tak mendukung. Pendiri pusat belajar-mengajar swadaya Cinta Madani Kabupaten Bogor, Ahmad Zayyadi, menuturkan, di Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, misalnya, untuk menuju pusat belajar, siswa harus berjalan sekitar 5 km dengan jalanan berbatu dan menanjak. Bangunan tak permanen itu berada di lereng Gunung Siyeum. Belum dialiri listrik, dan tak ada angkutan umum.
Di daerah tsb ada sekitar 170 anak usia SD hingga 18 tahun. Kebanyakan SD. Pendiri Yayasan Bina Anak Pertiwi itu juga mengatakan, tak ada guru di daerah tsb. Selama ini, ia memanfaatkan tenaga 4 guru yang digaji dari yayasannya. “Sejak tahun 1963, masyarakat di sini mengharapkan sekolah dan memang banyak yang menjanjikan. Tetapi, tidak ada yang terbukti. Jadi, ini memang sebagai komitmen kami untuk dunia pendidikan,” kata Zayyadi.

Menanggapi hal tsb, pengamat pendidikan dari UPI, Said Hamid Hasan, menuturkan, pemerintah seharusnya menggencarkan konsep guru kunjung yang sebenarnya telah digagas sejak lama. Pada intinya, seperti tercantum dalam UU Sistem Pendidikan Nasional nomor 20/2003, masyarakat tidak boleh terkendala oleh ekonomi, geografis, sosial, politik, suku, dll, dalam mendapatkan pendidikan. Dengan guru kunjung, para siswa bisa tetap belajar tanpa harus menempuh jarak yang jauh, karena gurulah yang lebih aktif berkunjung ke permukiman anak. Untuk itu, seharusnya pemerintah memperbanyak jumlah guru kunjung dan memberikan fasilitas yang bagus kepada guru kunjung atau guru di daerah terpencil agar mereka mudah menjalankan tugas.”Berilah mereka mobil dan fasilitas lain yang mendukung,”katanya.
Selain itu, pemerintah seharusnya memberi apresiasi yang proporsional pada guru di daerah terpencil dan merotasinya setelah 5 tahun di daerah. Sejauh ini yang terjadi, apresiasi pemerintah masih rendah. Contohnya saat mengambil gaji, tidak mudah, bahkan tunjangan pun masih tersendat-sendat. Tahun 1990-an UPI mengirim 30 guru ke pedalaman Kalimantan Barat. Namun, yang bertahan hanya 3 orang karena lemahnya apresiasi. Padahal di pedalaman juga banyak anak berpotensi. ( PR, 14/12/2009 )
Padi & ikan mati. Andai ada saluran irigasi di kampung kami.


Air adalah sumber kehidupan masyarakat di desa kami karena 80 % masyarakatnya adalah petani. Sumber pencarian mereka hanya dari menanam padi, sayur-sayuran dan beternak ikan. Akan tetapi, bila musim kering, air hampir tidak ada, dan petani banyak yang gulung tikar karena padi dan ikan tak ada air. Jadi, banyak padi dan ikan yang mati. Andai saja ada saluran irigasi, mungkin masyarakat di desa kami dapat terbantu. Kepada instansi yang terkait, tolong dibuatkan saluran irigasi di Kampung Balong, Margaharja, Ciamis. Masyarakat menunggu bantuan pembuatan saluran irigasi. ( Arip Hidayat/ Surat Pembaca PR, 14/12/2009 ).
Sistim ijon : pupuk Rp.130.000/ kuintal dibayar padi Rp.250.000,-/ kuintal. Tengkulak vs petani.
Pemkab Majalengka harus segera menangani persoalan masa tanam yang kini tengah dihadapi para petani di sejumlah sentra produksi padi agar mereka tak terjebak tengkulak2 yang merugikan usaha pertanian dengan sistem ijon. Jika terus dibiarkan, mereka akan semakin miskin, kata Nasir, wakil ketua DPRD Majalengka, didampingi Cecep Jalaludin, Wirman dan Muhamad Sihabudin. Petani tak memiliki dana untuk membeli pupuk dan sarana produksi pertanian lainnya. Pemerintah harus menyediakan pupuk murah, pinjaman lunak dan mudah, yang bisa dibayar saat panen. Dengan cara demikian, petani takkan meminjam pada tengkulak, melainkan pada lembaga yang disediakan pemerintah.
Pengadaan saprotan ( sarana produksi pertanian ) yang pernah dilakukan pada program Bimas ( Bimbingan Masyarakat ) harusnya bisa dilakukan lagi oleh Pemkab Majalengka, atau mungkin membentuk BUMD ( Badan Usaha Milik Daerah ) yang khusus menangani saprotan, di mana petani bisa membayar pinjaman saat panen. Namun, regulasi di BUMD harus dikaji lebih komprehensif agar tak terjadi tunggakan atau disalahgunakan oleh orang2 yang tak berkepentingan. Program Bimas yang lalu pun sebenarnya dinilai berhasil, jika saja tak disalahgunakan oknum2 yang mengambil keuntungan pribadi.
Memasuki musim tanam saat ini, banyak tengkulak yang mendatangi petani di sentra produksi Kecamatan Jatitujuh dan Kertajati. Mereka aktif menawarkan pupuk pada petani dengan sistem ijon, yang akan dibayar dengan padi saat panen dengan perbandingan 1 : 1. Harga pupuk menjadi jauh lebih mahal dibanding harga pupuk yang dibeli kontan ( di tingkat pengecer Rp.130.000 – Rp.135.000,- per kuintal, sedang harga padi Rp.220.000,- hingga Rp.250.000,- per kuintal ). Kondisi seperti itu biasa dilakukan para petani tiap tahun pada saat musim tanam, karena menjelang musim tanam para petani sudah tak memiliki stok padi untuk biaya garap dan pembelian pupuk. Akibatnya, banyak petani terlibat dengan tengkulak karena alasan mudah mendapatkan pupuk. Bahkan, kondisinya sudah merambah ke pengecer pupuk dari luar daerah.

“Mereka pikir, daripada petani mengambil pupuk pada orang lain yang tak punya pupuk, lebih baik mereka yang menyediakan pupuk ke petani. Untungnya, jauh lebih besar dibanding sekedar pengecer pupuk,”ujar Sarif, petani asal Jatitujuh. Para tengkulak tak pernah berpikir atas kerugian yang dialami petani saat panen. Mereka tahunya hanya mengambil gabah ke petani saat panen untuk membayar hutang. Tengkulak tak pernah mau tahu atau berpikir, apakah panennya diserang hama atau tidak. Untung atau tidak. Yang penting dapat gabah dari petani sesuai perjanjian. Soal ke depan petani tak punya gabah untuk biaya garap, itu soal lain. Mereka kembali menawarkan pinjaman hutang dengan bunga tinggi, keluhnya. ( PR, 3/12/2009 )
3200 ha sawah : dirusak tikus ( 178 ha ) dari 739 ha lahan diserang hama.
Para petani di 8 desa di Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang berhasil membasmi ribuan tikus pada sejumlah areal sawah. Petani mengaku khawatir gagal tanam mengingat serangan tikus pada musim sebelumnya, yang menyebabkan sekitar 100 hektar sawah gagal tanam. Pemberantasan hama tikus difokuskan di sepanjang tanggul Pertamina yang disinyalir petani sebagai sarang tikus. Mulanya, sarang tikus digali, lalu diasapi menggunakan alat emposan. Nanti, tikus akan keluar sendiri. Kami tinggal menangkapnya, kata Bambang ( 40 ), petani asal Desa Medang Asem, Kecamatan Jayakerta. Banyaknya serangan hama tikus karena masa tanam petani tak serempak. Setelah menyerang satu lahan, tikus berpindah dengan cepat ke lahan lainnya. Kalagumarang ( pemberantasan tikus ) kali ini dilakukan di 8 desa, yaitu ; Medangasem, Kampung Sawah, Ciptamarga, Kemiri, Jayamakmur, Makmurjaya, Jayakerta, dan Kertajaya.
Menurut kepala desa Kemiri, Salwani, kalagumarang dilakukan tiap musim panen tiba. Sehingga saat padi sudah tertanam, petani sedikit lega karena sarang tempat hama tikus sudah dibasmi. Antisipasi dini dapat dilakukan petani dengan cara segera menghancurkan sarang tikus yang ditemukan, karena tikus sulit dibasmi dengan obat. Camat Jayakerta, drs.H. Hamdani mengatakan, tak kurang dari 100 hektar ( ha ) lahan diserang tikus dari 3200 hektar lahan sawah di kecamatannya.
Kepala Bidang Tanaman dan Pangan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Karawang, Kadarisman, mencatat, hama padi yang dominan menyerang di antaranya ; hawa wereng ( 312 ha ), penggerek tanaman ( 239 ha ), tikus ( 178 ha ) dan siput ( 10 ha ). Total 739 hektar. ( PR, 3/12/2009 )
4000 anjing liar/ rabies berkeliaran di pedesaan. Racun anjing Rp. 9 juta/ kg.
Bidang peternakan dan Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan melakukan vaksinasi terhadap 1000 anjing peliharaan di 4 lokasi, termasuk mengambil sampel darah sebagai bahan pemeriksaan untuk mengetahui antibodi anjing terhadap rabies. Namun, masih terdapat 4000 anjing liar yang seharusnya sudah dieliminasi ( dibunuh ), tetapi dibiarkan berkeliaran akibat terbatas dan mahalnya harga racun anjing. Kepala Dinas Pertanian, Kuningan, H.Iman Sungkawa, melalui Kabid Peternakan, Tatang Rustandi, usai melakukan vaksinasi ( 2/12/2009 ) menyebutkan, untuk mengantisipasi penularan rabies, sejumlah petugas memvaksin 400 ekor anjing di Kecamatan Kuningan, 150 ekor di Kecamatan Cilimus, 200 ekor di Kec.Ciawigebang dan 250 ekor di Kec.Luragung.
Sejak 5 tahun lalu, Kab.Kuningan sudah dinyatakan bebas rabies, tapi hal itu tak menutup kemungkinan rabies akan muncul lagi, karena belakangan ini ada sekitar 4000 ekor lebih anjing liar yang berkeliaran di pedesaan. Petugas siap bekerja sama dengan aparat desa untuk memberi racun pada anjing liar yang ada di masing2 desa/ kelurahan. Meski demikian, harga Strygnine ( dari Perancis, India ) relatif mahal mencapai Rp. 8 – 9 juta/ kg. Satu kilogram racun itu bisa efektif membunuh 4000 anjing, ukuran besar maupun kecil. ( PR, 3/12/2009 )
Harga kubis Rp.500,- per kg. Biaya produksinya Rp.900,- . Petani butuh pengetahuan pasar.
Para petani sayur mayor di Kecamatan Pangalengan mengeluhkan harga sayur mayur yang belum berpihak kepada mereka. Penjualan sayur hanya cukup menutup biaya produksi. Malah, kadang harus nombok. Menurut tokoh petani Pengalengan, H.Usep, harga sayur saat ini, seperti tomat sekitar Rp.2000,- per kg. Sementara, biaya produksi tomat sekitar Rp.2000,- Pas-pasan. Para petani sekedar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya untuk makan. Harga kubis sekarang rata2 Rp.500,- per kg dan biaya produksi sekitar Rp.900,-. Pengalengan saat ini, sedang tidak musim tanam kentang. Para petani membutuhkan pengetahuan pasar sehingga tidak terjadi tanam serentak yang berdampak pada anjloknya harga sayuran. ( PR, 14/12/2009 )
Bambu + kreativitas = green design, ramah lingkungan, berkelas, bernilai ekonomi tinggi.
Bambu sudah dikenal masyarakat Jawa Barat dengan beragam fungsi pendukung aktivitas sehari-hari. Saat plastik mengganti fungsi bambu, sejumlah daerah masih menjadikan bambu sebagai bahan utama. Bahkan, pamor bambu belakangan ini kembali dilirik. Bambu tak lagi menjadi kerajinan cindera mata atau hiasan, tapi juga peralatan rumah tangga, kesenian, atau alat bantu lainnya.


Dalam pameran hasil karya kompetisi desain “Awi-awi 2009”, bertempat di Gedung Indonesia Menggugat, potensi bambu tak hanya ditonjolkan sebagai bahan untuk peralatan tradisional, tetapi juga peralatan modern. Misalnya, karya Rizki Zulian N. berjudul “Cigee”, berupa bangku relaksasi yang tak hanya memperlihatkan cita rasa alami, tetapi juga nilai estetika dan ergonomic. Bangku relaksasi bercitrakan daun ini, memberi nilai lebih dari batang bambu. Bambu sebagai tanaman khas tanah Parahyangan mampu memberi identitas pada bangku relaksasi “Cigee” sebagai produk green design.
Karya Muhammad Ihsan berjudul “Bambu Pincuk Set” juga menyedot perhatian pengunjung. Karya kriya berupa alat makan makanan ringan terdiri atas pincukboo dan sendokboo. Gabungan material stainless steel dan bambu. Tak hanya meningkatkan nilai estetika alat makan tsb, namun juga nilai bambu yang identik sebagai produk tradisi berharga murah, menjadi produk berkelas.
Keunikan inovasi produk bambu yang ditampilkan, sejak Jumat ( 11/12/2009 ) kemarin, tak hanya menarik perhatian pengunjung, yang sebagian besar seniman dan mahasiswa seni & desain sejumlah universitas, tapi juga diminati masyarakat umum. Mereka yang berminat banyak yang memesan. Sayangnya, karena masih berupa konsep, permintaan tsb belum bisa dilayani. Melalui kreativitas, nilai estetika bambu tak kalah dengan logam atau plastik. Tanaman bambu masih memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Dan yang terpenting, ramah lingkungan. ( PR, 14/12/2009 )
Rp. 2 milyar/ tahun dari wisata hutan. Warga desa dilibatkan dengan sistem bagi hasil.
Selamat datang di Curug Cilember. Masyarakat sekitar yang dilibatkan, menjadikan obyek wisata aman, bersih, dan terjaga kelestarian.
Di antara sejumlah obyek wisata kehutanan yang tengah dioptimalkan bisnisnya oleh Perum Perhutani Unit III adalah Curug Cilember, Kec.Cisarua, Kab.Bogor. Obyek wisata seluas 5 hektar yang dibuka untuk umum sejak 1993 itu menjadi salah satu primadona eco-tourism dan tujuan wisatawan ke Puncak. Curug yang dikelola Kesatuan Pemangkuan Hutan ( KPH ) Bogor ini, memiliki sejumlah andalan, di antaranya ; 7 air terjun, rumah kupu2 ( ada spesies langka Troides helena dan Papilio meiunon ), obyek perkemahan, tempat menginap, outbond, flying fox dan lokasi wisata lainnya. Lokasi cukup mudah dicapai karena banyak jalur alternatif. Umumnya wisatawan mengambil jalur dari arah Kec.Cisarua. Mereka datang dari Jakarta, Bogor, Bekasi, Tangerang, Sukabumi, Cianjur, Bandung, dan Timur Tengah. Apalagi, kawasan Puncak, Bogor, ada “kampung” Arab.
Masyarakat sekitar melalui Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat ( PHBM ) sudah dilibatkan melalui seleksi ketat KPH Bogor, mempertimbangkan kemauan, kemampuan dan rasa tanggung jawab mereka memelihara lingkungan. Kemajuan paling menyolok setelah masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan adalah faktor keamanan dan kebersihan yang kian meningkat. Mereka ikut menjaga kelestarian lingkungan. Resep yang jitu adalah bermitra dengan ikatan remaja masjid desa setempat. Langkah adaptif yang ditempuh KPH atas kekritisan masyarakat sekitar atas efek sosial budaya, keamanan, kenyamanan, moral, dsb, seiring perkembangan obyek2 wisata.
Besarnya kontrol sosial dari mereka menjadikan Curug Cilember tempat rekreasi yang sehat, terjaga, nyaman untuk rekreasi keluarga, pelajar dan umum, terutama bagi wisata alam dan ilmu pengetahuan. Pengelola bersama masyarakat bersepakat memanfaatkan obyek wisata Cilember untuk berkemah bermalam untuk keluarga. Mereka tak menerima pelajar, mahasiswa, pemuda yang datang berpasangan. Hasilnya, kunjungan wisatawan kian meningkat. Diraih pendapatan lebih Rp.2 milyar dari target Rp.1,8 milyar tahun 2009. Rekornya 4000 pengunjung/ hari pada Lebaran lalu.
Konsep pengembangan wisata kehutanan oleh Perhutani Unit III disusun untuk ramah lingkungan dan menghindari kerusakan hutan. Tak membangun pondok permanen, hanya boleh bangunan kayu atau rumah pohon, serta fasilitas umum seluas maksimal 10 % dari wilayah kehutanan. Sistim pengamanan hutan menjadi salah satu pertimbangan utama pengunjung dan investor. Hampir seluruh kawasan kehutanan Perhutani sudah dilakukan PHBM dengan sistem bagi hasil. Kepala Seksi Keamanan Perum Perhutani Unit III, Amas Wijaya, salah satu dampak positif adalah keamanan hutan setempat meningkat. Logikanya sederhana, karena masyarakat sekitar diperbolehkan ikut terlibat dan menikmati hasil usaha dari kawasan kehutanan, paling tidak, mereka termotivasi ikut menjaga keamanan dan kenyamanan tempat usaha mereka.

Sejumlah pemerhati lingkungan mengatakan, Perhutani harus mengantisipasi resiko tumpukan sampah pengunjung, perubahan struktur tanah, perubahan iklim mikro, gangguan terhadap ekosistem hutan, resiko kebakaran hutan, dll, karena banyaknya manusia yang masuk ke hutan. Potensi resiko itu harus dapat ditelaah Perhutani. Apalagi, salah satu peran, tugas, dan misi penting yang mereka emban adalah melakukan pemulihan dan pelestarian lingkungan. Pengembangan kawasan wisata hutan jangan jadi bumerang. Hutan adalah titipan yang harus dirawat. Bukan warisan yang dieksploitasi. Juga, jangan berubah jadi wisata “ziarah” yang berbau mistik. ( PR, 30/11/2009 )

 

 

     

    JENIS JENIS DESA

    1. Desa Terbelakang atau Desa Swadaya

    Desa terbelakang adalah desa yang kekurangan sumber daya manusia atau tenaga kerja dan juga kekurangan dana sehingga tidak mampu memanfaatkan potensi yang ada di desanya. Biasanya desa terbelakang berada di wilayah yang terpencil jauh dari kota, taraf berkehidupan miskin dan tradisional serta tidak memiliki sarana dan prasaranan penunjang yang mencukupi.

    2. Desa Sedang Berkembang atau Desa Swakarsa


    Desa sedang berkembang adalah desa yang mulai menggunakan dan memanfaatkan potensi fisik dan nonfisik yang dimilikinya tetapi masih kekurangan sumber keuangan atau dana. Desa swakarsa belum banyak memiliki sarana dan prasarana desa yang biasanya terletak di daerah peralihan desa terpencil dan kota. Masyarakat pedesaan swakarsa masih sedikit yang berpendidikan tinggi dan tidak bermata pencaharian utama sebagai petani di pertanian saja serta banyak mengerjakan sesuatu secara gotong royong.
    3. Desa Maju atau Desa Swasembada
    Desa maju adalah desa yang berkecukupan dalam hal sdm / sumber daya manusia dan juga dalam hal dana modal sehingga sudah dapat memanfaatkan dan menggunakan segala potensi fisik dan non fisik desa secara maksimal. Kehidupan desa swasembada sudah mirip kota yang modern dengan pekerjaan mata pencarian yang beraneka ragam serta sarana dan prasarana yang cukup lengkap untuk menunjang kehidupan masyarakat pedesaan maju.

     

    POLA KERUANGAN DESA & KOTA


        Yang dimaksud dengan desa menurut Sutardjo Kartodikusuma mengemukakan sebagai berikut: Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri.

    Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan goegrafi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.

    Sedang menurut Paul H. Landis :Desa adalah pendudunya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai berikut :
    a)    mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
    b)    Ada pertalian perasaan yang sama  tentang kesukaan terhadap kebiasaan
    c)     Cara berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti : iklim, keadaan alam ,kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.

    Pola Tata Ruang Desa Kota
    Desa merupakan suatu lokasi di pedesaan dengan kondisi lahan sangat heterogen dan topografi yang beraneka ragam. Pola tata ruangnya sangatlah tergantung pada topografi yang ada. Pola tata ruang merupakan pemanfaatan ruang atau lahan di desa untuk keperluan tertentu sehingga tidak terjadi tumpang tindih dan berguna bagi kelangsungan hidup penduduknya.




    Pemanfaatan lahan di desa dibedakan atas dua fungsi, yaitu:
    1. Fungsi sosial adalah untuk perkampungan desa.
    2. Fungsi ekonomi adalah dimanfaatkan untuk aktivitas ekonomi seperti , sawah, perkebunan, pertanian dan peternakan
    Dalam penataan ruang desa maupun kota diperlukan empat komponen, yaitu :
    1. Sumberdaya alam,
    2. Sumberdaya manusia,
    3. IPTEK dan
    4. Spatial (keruangan)
    Pola tata ruang desa pada umumnya sangat sederhana, letak rumah di kelilingi pekarangan cukup luas, jarak antara rumah satu dengan lain cukup longgar, setiap mempunyai halaman, sawah dan ladang di luar perkampungan.

    Pada desa yang sudah berkembang pola tata guna lahan lebih teratur, yaitu adanya perusahaan yang biasa mengolah sumberdaya desa, terdapat pasar tradisional, tempat ibadah rapi, sarana dan prasarana pendidikan serta balai kesehatan. Semakin maju daerah pedesaan, bentuk penataan ruang semakin teratur dan tertata dengan baik.
    Pola persebaran dan pemukiman desa menurut R Bintarto (1977) sebagai berikut:
    1. Pola Radial
    2. Pola Tersebar
    3. Pola memanjang sepanjang pantai
    4. Pola memanjang sepanjang sungai
    5. Pola memanjang sepanjang jalan
    6. Pola memanjang sejajar dengan jalan kereta api
    Bentuk dan pola tata ruang kota, dalam penataannya tidak terlepas memperhatikan corak kehidupan penduduk, karena penduduk kota sudah memiliki corak ragam kehidupan yang heterogen, sehingga pola pola tataguna lahan untuk ruang di kota sudah dirancang dengan baik terutama memperhatikan pengadaan sarana perkotaan dengan baik dan terpadu yang meliputi :
    1. penyediaan air bersih
    2. drainase yang baik
    3. pengelolaan sampah
    4. sanitasi lingkungan
    5. perbaikan kampung
    6. pemeliharaan jalan kota
    7. perbaikan prasarana fungsi pasar. 
    .      Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, beserta penggunaannya, termasuk juga unsur lokasi, luas dan Batas yang merupakan lingkungan geografis setempat. 

    2.      Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk desa setempat. 


    3.      Tata kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa. Jadi menyangkut seluk-beluk kehidupan masyarakat desa (rural society). 

    Ketiga unsur desa ini tidak lepas satu sama lain, artinya tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan Unsur daerah, penduduk dan tata kehidupan merupakan suatu kesatuan hidup atau "Living unit" Daerah menyediakan kemungkinan hidup, penduduk menggunakan kemungkinan yang disediakan oleh daerah itu guna-mempertahankan hidup. Tata kehidupan, dalam artian yang baik memberikan jaminan akan ketenteraman dan keserasian hidup bersama di desa. (Bintaro, 1977: 15).
     
    Unsur lain yang termasuk unsur desa yaitu, unsur letak. Letak suatu desa pada umumnya selalu jauh dari kota atau dari pusat pusat keramaian. Peninjauan ke desa-desa atau perjalanan ke desa sama artinya dengan menjahui kehidupan di kota dan lebih mendekati daerah-daerah yang monoton dan sunyi. Desa-desa yang pada perbatasan kota mempunyai kemampuan berkembang yang lebih banyak dari pada desa-desa di pedalaman. 

    Unsur letak menentukan besar-kecilnya isolasi suatu daerah terhadap daerah-daerah lainnya. Desa yang terletak jauh dari batasan kota mempunyai tanah-tanah pertanian yang luas. Ini disebabkan karena penggunaan tanahnya lebih banyak dititik beratkan pada tanaman pokok dan beberapa tanaman perdagangan daripada gedung-gedung atau perumahan. Penduduk merupakan unsur yang penting bagi desa. "Potential man power" terdapat di desa yang masih terikat hidupnya dalam bidang pertanian. 


    Kadang-kadang di beberapa desa terdapat tenaga-tenaga yang berlebihan di bidang pertanian, sehingga timbul apa yang disebut dengan istilah pengangguran tak kentara atau "disguished unemploment". Dalam hal ini perlu diperhatikan penyaluran-penyaluran yang sebaik-baiknya, misalnya dengan lebih meningkatkan dan menyebarkan "rural industries" atau migrasi yang efisien.